Masyarakat Sipil Dunia Harus Bersatu Teriak Hentikan Perang
Demo Masyarakat Sipil Tolak Perang
Medan, 15 Mei 2026
Perang yang dimulai pada Akhir Februari 2026 lalu di Timur Tengah, hingga kini belum juga usai. Perang yang melibatkan Iran melawan Israel dan Amerika Serikat tersebut pun telah diikuti dengan penutupan salah satu jalur minyak di dunia. Jalur minyak tersebut adalah Selat Hormuz yang merupakan milik dari Negara Iran. Iran yang notabene diserang oleh Israel dan Amerika di akhir Februari tersebut, langsung membalas sambil menutup Selat Hormuz.
Lihat : Demo Hentikan Perang! Polisi Israel dan Demonstran Bentrok di Tel Aviv
Akibat dari penutupan Selat tersebut, kapal-kapal pengangkut minyak yang biasa melalui selat tersebut tak bisa melintas lagi. Kapal yang baru memuat minyak untuk dibawa melalui Selat Hormuz ke negara tujuan, harus parkir sebelum memasuki Selat Homuz. Begitupun kapal yang hendak memuat minyak dengan melintasi selat tersebut harus parkir sebelum sampai ditempatnya memuat minyak. Iran mengancam akan meledakkan kapal yang melintas selama penutupan selat tersebut.
Tak pelak, cadangan minyak di beberapa negara pun mulai menipis dan mulai mengalami kelangkaan minyak disana-sini. Australia adalah salah satu negara pertama yang terberitakan mengalami kelangkaan minyak dibeberapa kota nya. Selain Australia, juga ada Filipina yang juga lebih awal mengalami imbas dari penutupan Selat Hormuz tersebut.
Baca : Australia Krisis BBM. Aban: “Awas Ada Yang Coba Cari Untung”
Kini ketika perang sudah berjalan hampir dua bulan, semakin banyak negara yang merasakan langsung dampak perang tersebut. Salah satunya adalah negara Indonesia yang beberapa waktu lalu mengalami kenaikan harga plastik hingga dua kali lipat. Tidak hanya itu, nilai Rupiah pun melemah terhadap Dolar AS. Hingga berita ini diterbitkan, harga dolar telah mencapai Rp 17.500,- untuk 1 dolarnya.
Tidak hanya itu, secara tak resmi buruh mulai mendengar rencana pengurangan pekerja. Hal tersebut informasinya dilakukan oleh perusahaan sebagai respon terhadap efek perang yang melambungkan harga minyak. Akibatnya, resah pun melanda seluruh pekerja Indonesia dalam menjalani hari-harinya ditempat kerja.
Baca Juga : Dasco, BBM Tak Naik Untuk Jaga Daya beli. Jul: “Saya Dukung”
Meliana SH yang merupakan Badan Pengurus Pusat Federasi Serikat Pekerja Multi Sektor (BPP FSPMS) pun angkat bicara. “Mungkin karena belum terberitakan saja, namun saya yakin di negara lain industri pasti ada yang mulai terganggu”, ucap Advokat ini. Lanjutnya, “Minyak ini dibutuhkan setiap industri, sehingga ketika mengalami kenaikan akan berimbas kepada industri”. Menurut Meliana SH harga produksi dari hasil olahan tiap industri akan meningkat dengan kenaikan minyak tersebut. “Dan hal tersebut akan diikuti oleh kenaikan harga jual dari produk yang dihasilkan industri tersebut”, tambahnya.
Harapan akan berakhirnya perang hingga kini bergantung kepada proses mediasi yang dijalankan saat ini oleh beberapa pihak. Kemaren ada Negara Pakistan yang memfasilitasi perdamaian antara Iran melawan Israel dan Amerika. “Tapi perundingan perdamaian tersebut telah gagal, dan kini negara yang sedang berperang tersebut terlihat mulai ada melakukan penyerangan lagi”, ucap Meliana.
Menurut Meliana, melihat lamanya perang yang diduga sebentar lagi akan memaksimallkan efeknya terhadap sektor industri, masyarakat dunia harus bicara. “Masyarakat sipil dunia harus menyatakan menolak perang”. ucap Meliana. Lanjutnya, “Masyarakat sipil dunia harus segera berkoordinasi dan melancarkan protes terhadap perang dan mengancam mogok internasional”. Tambahnya, “saya yakin dengan demikian kedua negara tersebut pasti akan menghentikan perang tersebut”.
Baca Juga : Aksi Demo di Kedubes AS Jakarta, Massa Dukung Seruan Paus Leo XIV Hentikan Perang dengan Iran
Banyak alasan yang dapat dijadikan landasan untuk meminta negara-negara yang sedang berperang tersebut berhenti berperang. “Salah satunya ya alasan kemanusiaan. Lihat saja ada berapa korban jiwa yang sudah berjatuhan, tambah lagi efeknya kepada ekonomi dunia yang pastinya terpengaruh semua”, ujar Meliana. Ia mengatakan masyarakat sipil adalah korban langsung dari perang tersebut, sehingga masyarakat sipil harus bicara.
Menurut Meliana, masyarakat sipil di Indonesia sudah bisa untuk angkat bicara dan berkoordinasi dengan masyarakat sipil negara lainnya. “Di Sumatera Utara ada Akbarsu yang terlihat aktif mengkritisi kebijakan publik, boleh sekali untuk mulai berbicara”, tegasnya. Lanjutnya, “Tidak mesti dari negara barat yang pertama, dari Indonesia dan dari ujung Pulau Sumatera ini juga bisa kok, apalagi atas nama kemanusiaan”, tutup Meliana. Aktifis buruh ini juga menyatakan harapan besarnya agar ekonom Indonesia tidak hanya mengkritik negara, namun juga kebijakan dunia. (yig)








