Antara Selat Hormuz Dan Penyeberangan Fery Aji Bata-Parapat
Selat Hormuz
Siantar, 20 Maret 2026
Perang antara Iran melawan Israel dan Amerika dimulai dengan penyerangan udara yang terjadi pada 28 Maret 2026. Penyerangan itu dilakukan oleh Israel dan Amerika terhadap Iran buntut dari gagalnya perundingan diantara mereka. Serangan tersebut selanjutnya dibalas oleh Iran, dan pecahlah perang diantara mereka hingga berita ini diturunkan. Drone, Rudal, Nuklir, Pesawat Udara Canggih, Kapal Perang, Kapal Selam dan Heli Copter canggih dipamerkan sebagai alat perang.
Baca : Ini Peta Kekuatan Militer AS vs Iran: Benarkah Seperti Gajah vs Semut?
Hasilnya, kerusakan dimana mana terhadap gedung, alat perang tersebut dan tak lupa korban jiwa dan luka-luka berjatuhan. Malam yang biasanya gelap menjadi terang dan berkelap-kelip sebab ternyata malam hari pun perang tetap terjadi. Khawatir, tangis dan tawa terlihat silih berganti dan kadang bersamaan terdengar dan terihat di media-media sosial akibat perang tersebut.
Namun ternyata khawatir, tangis dan tawa tersebut tidak hanya terjadi dan dialami oleh pihak-pihak yang berkonflik. Pihak yang tidak turut berperang dan jauh dari lokasi perang ternyata sejak perang dimulai juga sudah khawatir, menangis dan juga tertawa. Pasalnya, akibat perang tersebut sejak 1 Maret 2026 Selat Hormuz resmi ditutup oleh Iran yang merupakan pemilik selat tersebut.
Baca Juga : Mengenal Selat Hormuz: Letak, Kepemilikan, dan Perannya di Jalur Minyak Dunia
Ternyata ketika Selat Hormuz di tutup kapal-kapal pengangkut minyak terpaksa memutar jauh untuk sampai ketujuan. Lalu, ketika minyak tidak sampai atau terlambat tiba ditujuan maka penghasil minyak lainnya akan kebanjiran permintaan. Maka, khawatir dan tangisan melanda masyarakat kecil yang terdampak akibat sulitnya minyak tersebut. Dan tawa pun pecah pada kaum-kaum pemodal yang bisnisnya berkaitan dengan pengadaan minyak tersebut.
Sebegitu pentingnya Selat Hormuz bagi hampir semua negara yang bergantung terhadap minyak dari daerah sekitar konflik tersebut. Sehingga tidak salah jika dikatakan penutupan selat tersebut akan menggangu kestabilan energi di dunia. Selat yang dimiliki oleh negara Iran tersebut, tak dapat disalahkan jika ditutup oleh negara Iran sendiri. Hal ini dikarenakan kepemilikan yang ada pada Iran atas selat tersebut, memungkinkan baginya untuk sesuka hati memfungsikannya.
Baca Juga : Anto Gondrong, “Indonesia Beli Minyak ? Tidak Salah Itu ?”
Sama hal nya dengan Pelabuhan Aji Bata – Parapat. Pelabuhan Ferry ini begitu penting bagi masyarakat yang tinggal di Kota Siantar jika hendak ke Pulau Samosir. Jika pelabuhan tersebut ditutup oleh Kabupaten Simalungun, tentunya akan sangat memberatkan bagi masyarakat di Kota Siantar. Masyarakat tersebut harus keliling jika hendak ke Samosir. Mereka harus melui Kabupaten Simalungun menuju Kabupaten Karo, lalu ke Kabupaten Dairi guna menuju Kabupaten Samosir tersebut.
Lihat : PELABUHAN AJIBATA PARAPAT ❗ANTRIAN MOBIL MENGULAR DI MUSIM LIBURAN ❗WASPADA ❗
Akibatnya pun jelas sama, bertambahnya biaya perjalanan menuju Kabupaten Samosir jika tidak lewat Aji Bata-Parapat. Akan banyak hal yang tertunda karena keterlambatan ketibaan. Akan banyak yang terpengaruh akibat perjalanan yang harus memutar tersebut. Oleh karenanya membangun hubungan baik sangat penting agar penutupan jalan-jalan penting tidak dilakukan oleh pemilik jalan.
Segala sesuatunya harus dibicarakan dengan duduk bersama. Segala sesuatu nya dapat dikomunikasikan agar semua pihak bisa sama-sama terakomodir kepentingannya. Semua bisa dibicarakan agar sama sama untung dan sama sama tidak rugi banyak. Peran mediator pun sangat penting guna tercapainya kesepakatan yang menguntungkan semua pihak. (yig)





